Sejujurnya, saya bukan orang yang suka mengumbar mengenai pandangan politik saya ke mata publik, selain karena saya belum cukup ilmu untuk melakukannya, saya juga merasa orang-orang di negara Demokrasi ((katanya)) ini belum cukup siap menerima perbedaan..
Tapi beberapa hari lalu, adanya #MuslimvoteMuslim, menggugah saya untuk membuat tulisan ini, sekedar ingin berbagi mengenai apa yang saya pikir mengenai adanya gerakan ini.
Munculnya gerakan ini, saya rasa, singkat cerita pun tak perlu saya jabarkan, karena rasa-rasanya setiap hari kita benar-benar disuapi mengenai masalah ini hampir setiap saat dari sudut media manapun.
Saya sendiri merasa biasa-biasa saja, merasa senang-senang saja mengetahui saudara-saudara muslim saya punya iman yang cukup besar untuk menjalani hari-harinya sesuai dengan perintah agama kami. Sampai kemudian, di siang itu, di sela kerjaan kantor yang menumpuk, saat saya sedang ingin merilekskan pikiran sambil membuka Twitter, datanglah sebuat retweet-an di timeline saya dengan #Muslimvotemuslim yang kira-kira bunyinya :
“Jika pemimpin yang dipilih ternyata tidak amanah, itu bukan kesalahan kami. Tapi tanggung jawab dia dengan Allah.”
Sumpah. Tulisan itu membuat saya membeku beberapa detik, berusaha mencerna dengan pikiran sedingin mungkin. Tapi ya, saya juga cuma manusia biasa yang punya emosi, dan sungguh, saya tidak habis pikir, apakah benar harus sebegitunya ?
Karena bahkan dalam keluarga pun, dimana seorang Ayah adalah pemimpinnya, jika ((jangan sampai)) seorang Ayah tersebut tidak amanah dalam menjalankan tugasnya, menyakiti istri dan anak-anaknya, membuat keluarganya tidak sejahtera dan tidak hidup layak, apakah kemudian istri dan anak-anaknya itu harus tetap diam ? Harus tetap menjadikan Ayah tersebut seorang pemimpin ?
Ayah tersebut akan mempertanggung-jawabkan kelakuannya di dunia di hadapan Allah SWT, iya. Mungkin siksa api neraka yang akan di berikan padanya akan sangat diluar pikiran kita, iya.
Tapi seandainya itu terjadi pada saya ((yang Alhamdulillah-nya tidak)), saya tidak akan tinggal diam.
Saya percaya, kenikmatan terbesar dalam hidup yang bisa dimiliki seorang manusia adalah pilihan, dan untuk hidup saya, saya akan selalu berusaha memilih yang terbaik diantara yang paling baik.
Bukan cuma untuk saya, tapi tentunya juga untuk orang-orang disekitar saya.
.
.
.
Tulisan ini mungkin akan membuat saya kehilangan segelintir teman dalam hidup saya, perbedaan pandangan itu wajar, baik kalau diatas segala perbedaan ini kita masih bisa saling bersama-sama, tapi kalau tidak, ya saya juga tidak mau memaksa..
Saya sendiri bukan orang benar, masih banyak perintah agama yang belum saya lakukan dengan sebaik-baiknya, tapi saya selalu percaya kepada iman yang saya miliki, dan waktu membuktikan, bahwa iman saya tidak sedangkal itu, bahwa saya tidak perlu takut atau mempertanyakan ke-imanan saya, kemanapun kaki saya melangkah..
Nyaris tujuh belas tahun lalu, saya bersekolah di Kanisius, mendapatkan ilmu yang cukup dan baik, dibekali kemampuan-kemampuan dasar. Toh saya tidak pernah merengek atau merasa ditinggal saat teman-teman saya kemudian akan berdoa di Kapel sekolah dan saya tidak, karena saya tahu, setiap sore, saya akan mengaji di TPA dekat rumah.
Selama empat tahun, saya menempuh pendidikan di sebuah universitas swasta Katolik untuk mendapatkan gelar S1 saya. Saya tetap berpuasa di bulan Ramadhan tanpa merasa terganggu ((meski Kantin tetap buka sepanjang waktu)) , ada tempat khusus yang disediakan untuk Shalat, saya mempunyai kesempatan untuk mengikuti kelas dari seorang mantan Frater (Calon Pastur) dan kami saling berdiskusi tanpa menjatuhkan agama apapun. Oh, dan di hari ketiga saya di Ospek di kampus tersebut, kampus saya mengundang seorang ustadz untuk mengisi ceramah, mengenai indahnya perbedaan.
Saat ini saya berkerja di perusahaan swasta dengan latar belakang Suku bangsa, Agama, Ras dan Antar golongan yang berbeda. Kami tidak mendiskriminasi satu sama lain. Kami saling merayakan hari-hari besar keagamaan satu sama lain, menghormati, dan mendoakan yang terbaik.
Jadi ya, meski saya tahu iman saya belum sempurna, tapi setidaknya saya juga tahu, iman saya tidak dangkal, dan dapat berubah karena apa yang ada di sekililing saya, atau apa yang menjadi pilihan saya.
.
.
.
Sesungguhnya saya termasuk bagian orang yang lelah dengan segala pemberitaan di media akhir-akhir ini, dan ingin Pilkada ini cepat selesai, dengan hasil yang semoga saja dapat diterima oleh berbagai pihak.
Ini negara demokrasi, silahkan pilih siapa yang menjadi pilihanmu, yang ingin #Muslimvotemuslim silahkan, yang tidak juga tidak apa-apa, karena toh, dasar negara kita yang kelima kan bunyinya, Keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia.
Artinya, siapapun kamu, selama kamu orang Indonesia, kamu punya hak yang sama, entah itu masuk penjara karena salah, atau jadi presiden karena di percaya oleh rakyatmu.
Semua bisa. Tidak perlu takut.
Oh, dan sila pertama kita juga jangan dilupakan, Ketuhanan yang Maha Esa.
Jadi tidak ada kafir di Ibu Pertiwi ini, semua wajib memiliki agama dan dilindungi oleh UU dalam menjalankan ibadah agamanya.
.
.
.
Siapapun, dan bagaimanapun. Saya cuma berharap, yang akan memimpin Ibukota ini, Kota saya tercinta ini, adalah orang yang mampu bertanggung jawab dengan aksi-aksinya, yang mampu membawa perubahan.
Karena sekalipun di hari akhir nanti beliau akan mempertanggung-jawabkannya di hadapan Allah SWT, saya tetap ingin orang yang berani bertanggung-jawab dihadapan rakyatnya, orang-orang yang memilihnya.
Kota ini butuh aksi, bukan janji, apalagi teori.
Terimakasih.
Jakarta, 11 Februari 2017.