"At some point
I've gotten scared of people's eyes
I'm sick of crying so I tried smiling
But no one recognizes me"

Loser - Big Bang

Tuesday, December 29, 2015

Healing Journey in Seoul



Someone once said this “Being on a holiday is where you will meet your true self..” - unknown

*
*

Beberapa minggu lalu, akhirnya salah satu thing di bucket lists gue tercentang, liburan di Korea! Dan berhubung gue rasa udah banyak blog atau tulisan yang ngebahas tentang Korea, jadi bukan itu yang mau gue share disini. 

Tema liburan gue ke Korea, adalah my healing and me time! Jadi, sebelum berangkatpun, contrary to popular belief, gue udah bilang ke diri gue, kesana bukan untuk fangirling atau stalk oppa, melainkan untuk menikmati waktu-waktu berharga sama diri gue sendiri, enggak mau ngebebanin diri gue sama hal-hal yang cuma bakal bikin buang-buang waktu, karena percayalah, fangirling is never easy.


Tahun ini adalah tahun yang roller coaster buat gue. Gue adalah tipe orang yang selalu pusing mikirin opini orang lain, apakah yang gue lakukan sudah menyenangkan untuk orang lain ? Membanggakan ? Memuaskan ? Apakah keberadaan gue membantu untuk orang disekitar gue ? Apakah gue udah cukup peduli sama orang-orang yang ada di hidup gue ? Intinya, walaupun gue memutuskan pilihan-pilihan dalam hidup gue sendiri, tapi gue selalu memutuskan itu atas pertimbangan penilaian dari orang lain. Jadi misalnya ada pilihan A yang gue mau, dan B yang semua orang harapkan, maka gue akan tetap memilih B. Dan di awal tahun, satu hal yang gue bilang ke diri gue sendiri adalah, I need to be selfish, I need to think about my own worries and stop being goody-goody person

Itu bukan hal yang mudah. But I know, I need it so bad

Gue rasa, ada beberapa yang merasa betapa bitchie-nya gue tahun ini, betapa distance-nya gue sama orang-orang, betapa cuek-nya gue sama mereka. Dan untuk itu semua, gue mau minta maaf dan juga berterimakasih. Terutama untuk orang-orang yang tetap bertahan di hidup gue setelah semua yang terjadi.

Hal pertama yang gue lakuin tahun ini adalah, nyelesain skripsi gue apapun yang terjadi. Gue tahu dari awal, topik yang gue ambil terlalu jauh dari peminatan gue, dengan keadaan dosbing gue yang enggak terlalu paham sama topik itu dan sampai akhir dia berusaha untuk merubah topik gue, gue juga tahu, gue harus berjuang mati-matian saat sidang dan enggak berharap pembelaan dari dia, dan ada terlalu banyak cela secara akademis di topik itu. Dan gue juga tahu, kalau gue milih topik lain yang memang sesuai, semuanya akan lebih mudah buat gue. Tapi untuk pertama kalinya, gue mau ngejalanin apa yang orang bilang, do what your love and love what you do. Karena untuk pertama kalinya, selain bikin bangga orang lain, gue juga pengen merasa bangga sama diri gue sendiri, gue pengen ngelakuin satu hal yang gue bener-bener mau. It’s battle with myself, my ego, dan itu bukan hal yang mudah. Dan karena gue yang memilih itu, maka gue bilang ke diri gue sendiri, sesusah apapun, seberat apapun, gue enggak akan mengeluh, gue enggak akan menyerah. Bulan-bulan selama pengerjaan itu, bisa dibilang gue menghabiskan banyak waktu sendiri, it was a long and lonely journey, yang paling berat adalah ketika orang lain melihat gue yang enggak mengeluh dan terlihat baik-baik aja, ketika gue enggak meneteskan air mata di depan siapapun walaupun saat itu gue merasa stress setengah mati, saat pertama kalinya gue merasa mau pergi dari rumah dan orang-orang karena satu dan lain hal dan gue merasa super stuck, waktu gue mendengar keluhan-keluhan orang lain sementara pikiran gue sendiri berantakan.

And finally, I did it! Mission accomplished!

Dan hal kedua yang gue lakuin setelah gue lulus dan memuaskan diri gue sendiri adalah, try to be myself. Menghabiskan banyak waktu untuk memenuhi harapan-harapan orang, akan membuat seseorang lupa siapa dirinya, lupa apa yang benar-benar dia mau, dan gue rasa itu yang terjadi sama gue. Gue empat tahun lalu, adalah gue yang udah punya rencana sampai sepuluh tahun kedepan, dengan segala mimpi dan pencapaian yang gue yakin akan membuat orang disekitar gue bangga, tapi tanpa sadar, gue sendiri enggak benar-benar tahu, dari sekian rencana itu mana yang benar-benar sesuai sama gue, mana yang benar-benar gue mau dan membuat gue nyaman menjalaninya. Itu yang sedang gue coba dan masih lakukan. Setiap ada orang yang nanya rencana gue apa sekarang, gue akan jawab jujur, kalau gue enggak punya rencana, apapun. Gue belum berani “membebani” diri gue dengan mimpi-mimpi lagi, dan gue sadar gue pengecut untuk itu. Tapi banyak hal, mengajarkan gue bahwa bermimpi tidak semudah itu. Tapi sebagai gantinya, gue belajar untuk mensyukuri hidup, belajar untuk menikmati hidup, belajar untuk merasa bahagia dengan apa yang gue punya. 

I can’t have anything in the whole world, but for sure, I’ll always have myself in me, so I need to treasure it.

Makanya hal ketiga yang gue lakuin, closure untuk tahun ini adalah, time for myself, just me and only me. Untuk orang yang tipikal family person kaya gue, bukan hal yang mudah untuk berani liburan ke tempat yang asing dan jauh sendirian, begitu juga dengan orang tua gue untuk mengijinkannya, tapi comfortzone selalu punya batas, dan dunia terlalu luas untuk dijalani dalam batasan. So, I try to be brave. 

Dan gue enggak menyangka, liburan bisa membuat merasa setenang itu, senyaman itu sama diri gue sendiri, semenyenangkan itu sama pengalaman-pengalaman yang gue alamin.

Gue merasakan tidur di bandara, sendiri, diantara orang-orang yang enggak gue kenal, tapi gue merasa aman, karena gue tahu kita punya niat yang sama. Dan nyaris semua orang yang gue ceritain bilang gue nekat, tapi karena gue menikmati pengalaman ini, jadi gue merasa bangga sama diri gue sendiri, menghabiskan masa transit nyaris tujuh jam, tengah malam sampai subuh di negara orang, dan gue enggak merasa bosan atau takut, tapi malah merasa excited dan amazed.

Terus naik economy flight untuk internasional rute itu enggak mudah, karena selain kursi yang tetap tegak selama kurang lebih enam jam itu, lo juga enggak dapat hiburan apa-apa, beda dari international flight lainnya. Tapi gue tetap aja merasa nyaman. Apalagi mengingat gue adalah orang yang sangat phobia ketinggian dan enggak merasa aman setiap naik pesawat, dan kali ini gue harus menghabiskan sekian waktu didalam pesawat, diketinggian sekian puluh ribu kaki, tanpa siapapun yang bisa gue ajak ngobrol untuk mengurangi anxiety yang gue rasain, but well, I did it! Dan satu hal yang menyentuh gue, saat menjelang landing itu, telinga gue sakit banget, jadi selama hampir lima belas menit, gue berusaha menutup telinga gue dengan jari, dan kemudian, perempuan disebelah gue, orang Korea, dengan broken englishnya, berusaha nanya “Are you okay ?” sambil tersenyum ramah penuh perhatian, it was one of the best moment, seriously. Ketika lo sendiri, dan orang asing menunjukkan kepeduliannya, lo akan benar-benar merasa beruntung dan bahagia. And I felt it!

Di Incheon Airport, barulah gue ketemu sama grup backpacker yang gue ikutin. Dan sekali lagi itu pengalaman yang menyenangkan, ketemu orang-orang baru, dan kita punya tujuan yang sama walaupun berasal dari tempat yang beda, dan kita akan berbagi cerita yang sama dari sudut pandang kita masing-masing. Menurut informasi di pesawat, Incheon 8 derajat celcius waktu itu, tapi rasanya sih lebih dari itu, haha, karena jalan sekitar sepuluh langkah dari pintu keluar ke pintu bis aja, dinginnya bener-bener selamat datang yang bikin menggigil. But I still remember, I smiled so widely, cause hello Seoul, it’s me, let’s be good to each other!

Gue kebagian kamar guesthouse di lantai empat, dan dengan koper yang besar serta berat bukan hal yang mudah, karena the only way to go up adalah dengan..tangga. Haha. Tapi, oppa pemilik guesthousenya baik, jadi kopernya dibawain, walaupun pas pulangnya jam empat pagi, dengan koper yang jauh lebih berat lagi, gue terpaksa ngangkat turun empat lantai sendiri sih. Tapi enggak apa-apa, dingin-dingin menghangatkan badan sama olahraga itu mujarab! Satu hal yang sampai hari ini gue kangenin dari guesthouse ini adalah wifi-nya yang aduhai! Semua update-an di macbook dan handphone yang udah dari jaman kapan tahu, terupdate-lah dengan lancar, cepat dan gratis. Gue juga sempat download album isi 9 lagu, butuh waktu kurang dari semenit aja guys, huf, wifi…I miss you.

Karena lapar, gue pun mencoba ke Sevel yang ada di samping guesthouse, yang kemudian gue rasa jadi tempat yang paling sering gue datangin selama disana, haha. Beli banana milk dan triangle kimbab isi tuna mayo yang super fave dan sekarang super bikin kangen, hiks. Penjaganya kalau malem udah kakek-kakek gitu, dan dia ramah banget, and he tried so hard to conversed with english, dan ya walaupun ujung-ujungnya lebih banyak pakai bahasa senyum dan tangan, tapi itu lumayan mematahkan persepsi gue tentang ‘kaku’-nya Korea sama bahasa asing sih.  

Guesthouse yang gue tempatin letaknya tepat di Myeongdong, jadilah setiap malam gue berkeliling di Myeongdong sendirian. Haha. Dan gue rasa, saat-saat itu memberi gue banyak waktu refleksi. Ditengah keramaian, ditengah orang-orang yang berpasangan atau berkelompok, gue mencoba untuk menikmati kemeriahan dan keramaian tempat itu sendiri. Gue menelusuri gang-gang yang ada, sedikit nyasar kesana-sini, dapet senyuman dari eonni, oppa, ahjumma, ahjussi penjaga toko, nerima sample-sample make up gratis, melihat keunikan makanan-makanan disana, nikmatin odeng (fishcake) yang panas dan enak banget, kedinginan sampai ngeremes-remes hotpack, norak lihat uap yang keluar dari mulut sendiri, ikutan nyanyi lagu-lagu kpop yang diputer sama store-store disana. Dan rasanya amat sangat menyenangkan. Gue harus memutuskan dan bertanggung jawab atas segala yang gue lakukan, sendiri, tanpa intervensi orang lain, dan rasa-rasanya, akhirnya gue mengerti, apa arti kata freedom.

When you make your own happiness by yourself, without forget about the responsibility you need to take for your own action.

Katanya, belum sah kalau ke Korea enggak ke Nami Island, pulau buatan yang populer karena drama Winter Sonata. Dan sejujurnya itu bukan drama kesukaan gue, karena serius, selain bikin capek nangis nontonnya, bikin kesel juga, kok ya dari awal sampai akhir, ngenes banget. Tapi ya tetep, penasaran sama tempatnya. Sebenernya, ngincer ke Nami pas musim gugur, karena selain itu musim fave juga pemandangannya kelihatan lebih bagus aja. Tapi ya karena bisa berangkatnya awal desember, jadilah pas disana lebih sibuk ngerasa kedinginan daripada nikmatin tempatnya, karena letaknya diatas dan jauh lebih dingin dari Seoul. Hahahaha. Mungkin kalau suatu hari nanti bisa balik ke Nami, harus sama pasangan kali ya, haha, karena memang pulaunya di design buat romantis-romantisan, semuanya serba couple-an, haha. Yang enggak terlupakan dari tempat ini justru Dakgalbi-nya, haha, jadi ini masakan dari ayam yang memang khas dari tempat ini. Oh! Dan gue makan sayur disini, jadi cara makan dalkgalbi-nya itu setelah ayam yang udah di marinade matang di panggang, terus dibungkus sama semacem kubis gitu, barengan sama nasi, potongan bawang putih dan sausnya. Rasanya enak banget!!! Pas pulang, cerita ke mama sama ayah, enggak ada yang percaya gue makan sayuran, HUFFF!

And it’s a blessed, when you found the side you didn’t know inside yourself.

Gue juga merasakan naik subway (kereta bawah tanah) sendirian! Emang dari awal udah penasaran banget, pengen banget nyoba naik subway sendirian setiap free time, tapi pas baca-baca directionnya, kok agak gagal paham dan sedikit takut, haha. Tapi terus datenglah kesempatan, pas gue abis ketemuan sama Kak Mely, salah satu temen gue yang lagi kuliah disana, dan karena dia harus balik ke dorm-nya yang ada di luar Seoul, jadi kita pisah di subway station deh. Dia screencap-in rute yang harus gue laluin, dan dimana harus transit segala macam. Setelah abis pisah dari dia, sempet yang ragu juga, bakal sampai ke guesthouse apa enggak bermodalkan screencap-an doang, haha, tapi ya sekali lagi gue pikir, kapan lagi kan bisa ‘ngilang’ di negara orang, lagian kalau enggak sedikit nekat, bukan gue. Karena waktu itu udah hampir jam 10 malam, jadi subway-nya juga udah lumayan sepi, dan gue memutuskan untuk sok-sok-an kaya orang Korea, coat dan scarf tebel, sambil dengerin lagu lewat earphone, dan sibuk mainin smartphone (main game sih lebih tepatnya karena di subway enggak ada wifi gratis, hiks). Ngerasain pindah line subway, lupa tepatnya, tapi kalau enggak salah dari line 1 ke line 4, dan itu bikin naik turun tangga sana-sini, jalan lumayan jauh, tapi seru banget, haha. Dasarnya emang gue suka naik transportasi publik dan jalan kaki kali ya, haha, jadi bukannya ngerasa capek malah ngerasa seneng aja, soalnya ya itu, sok aja kaya orang Korea, haha. Pas udah sampai di stasiun Myeondong, berhubung males kalau harus jalan di luar yang udaranya lagi minus 7, jadilah gue sok pintar aja nyari jalan keluar yang pas depan guesthouse, hehe, dan setelah sempet sedikit bingung, setelah jalan lumayan jauh (banget!) ketemulah akhirnya. Sepele sih, tapi ngerasa bangga aja sama diri sendiri. You did a good job, Nin!

Challenge yourself and you will know, you’re not as weak as you believe. Trust yourself more is important.

Destinasi lain yang wajib kalau ke Seoul, jelas harus ke Namsan Tower. Dari turun bis ke pintu masuk towernya itu lumayan perjuangan banget, karena jalannya naik banget, dan sekali lagi karena super dingin, jadi harus pintar-pintar ngatur nafas kalau enggak mau sesak. Tapi yang bikin malu dan memotivasi adalah, sepanjang pendakian itu, banyak ketemu kakek nenek yang masih penuh energi dan semangat buat naik, sampai seneng lihatnya, bahkan pas gue pulang, ada kakek nenek yang udah kelihatan tua banget, neneknya pegangan ke pager pinggiran sambil gandengan sama si kakek, romantis banget, seneng sendiri lihatnya, hehe, ternyata ya Korea selain di drama di real life-nya juga penuh romantis-romantisan gitu. Pas di Namsan sempet naik ke atasnya, ngerasain naik liftnya yang katanya super cepat itu, dan memang super cepat sih. Terus di jendela-jendelanya Namsan di tempelin sticker-sticker nama ibukota-ibukota di dunia gitu, jadilah langsung nyari Jakarta. Ada tulisan jaraknya juga, dan Seoul-Jakarta ternyata terpisah sejauh 5,218.98 KM, wow baru sadar saat itu, ternyata gue sejauh itu dari rumah, dari comfortzone gue, dari orang-orang yang sayang sama gue. Kangen ? Iya. Dan mungkin itu juga kali ya, kenapa seseorang harus tahu rasanya pergi dan menjauh, supaya dia bisa tahu, pentingnya kembali dan caranya pulang, dan mungkin itu juga, apa yang gue cari selama ini. Karena gue tipe orang yang selalu stay, selalu loyal, orang yang bertahan, jadi gue enggak pernah benar-benar mengerti tentang perasaan-perasaan itu, dan perjalanan ini mengajarkan gue tentang itu. Di Namsan ada tradisi atau keunikan yang khas, yaitu masang gembok di pager-pagernya yang udah kita tulisin harapan yang kita mau, dan udah sejauh ini sampai Namsan tentu aja gue juga ngelakuin ini. Ada terlalu banyak orang penting dan berharga di hidup gue, tapi kalau gue boleh sedikit ‘lancang’ enggak semuanya bener-bener ada buat gue, terutama di masa-masa ini, jadi anggaplah yang namanya tertulis di gembok-gembok itu, semacam vvip di dalam hidup gue.

Be thankful for everything. Don’t take people for granted. When someone gives you their time, they are giving you a portion of their life that they will never get back. It’s one of the most precious gifts you can receive.

Tempat lain yang menyenangkan adalah saat gue ke National Palace Museum dan Gyeongbokgung Palace, sebagai orang yang suka sejarah, gue benar-benar thumbs up banget sama cara pemerintah Korea menghargai sejarahnya. Museumnya gratis, bersih, dan dingin, dengan penjelasan yang jelas di setiap koleksinya dan juga ada pemandu gratis dalam beberapa bahasa yang disediain. Istananya sendiri besar banget, berdiri di tengah kota, dan didepannya itu di kelilingin sama gedung-gedung tinggi khas kota besar, yang modern, tapi di dalam ruang lingkup istana itu gue tetap bisa merasakan aura tradisional dan kemegahan yang super. I wish someday Indonesia bisa lebih menghargai sejarah dan peninggalan-peninggalan yang kita punya, seperti mereka. Pas kesana, pas banget sama pergantian penjaga istana yang memang ditunggu-tunggu dan termasuk salah satu daya tarik dari istana ini, jadilah gue membiarkan kedua tangan gue beku demi bisa memfoto dan merekam momen-momen itu, haha. 

Dan gue juga ke Hongdae, tempat nongkrongnya anak-anak gaul Seoul, haha. Disini banyak perfomance street gitu, nemu satu yang ganteng dan suaranya bagus banget, haha, kalau enggak super dingin bakal nungguin sampai dia selesai nyanyi biar bisa kenalan deh, haha. Di tempat ini ramai banget, that kind of place yang semakin malam semakin seru, dan sampai sekarang masih terbayang-bayang hoodie pink yang enggak jadi gue beli, huf, mau. Haha. Ini semua bukan karena gue kehabisan won tapi karena gue ketakutan koper overweight, haha. Walaupun pada akhirnya enggak overweight, tapi berat koper gue nambah 8 kg dari berangkat, haha. Dan gue yakin, penyebab terbesarnya adalah setumpukan album artists Korea yang gue beli. Haha. Jadi, dulu banget, pas awal-awal suka KPop terus suka Super Junior, gue pernah janji ke diri gue sendiri, kalau suatu hari nanti gue bisa menginjakkan kaki di Korea, gue bakal melengkapi album Super Junior dari yang pertama sampai yang terakhir dirilis, jadilah total gue beli 10 album, haha. Yang bikin sebel, dari toko besar sampai ke yang toko di underground station, gue enggak nemu album kedua mereka, jadi sekarang koleksi full album mereka yang gue punya tetep masih kurang satu.

Treat yourself as much as you want, don’t wait for other to do it, you’re worth it and deserve all the best things in the whole world. Love yourself. Make yourself as your priority.

Intinya, ada terlalu banyak hal yang terjadi selama perjalanan singkat ke Korea itu. Tapi satu yang pasti, gue menemukan ketenangan, gue merasa bahagia, gue puas sama semua hal yang gue alami. Bisa gue bilang, tahun ini berkali-kali gue merasa kesepian, merasa sendirian, walaupun gue ada di tengah-tengah banyak orang, tapi saat gue melakukan perjalanan ini, sama orang-orang yang baru gue kenal, dan terkadang sendiri, di tempat yang sangat asing buat gue, satu kalipun gue enggak merasakan kesepian, kesendirian. Yang ada gue malah belajar untuk mengenal lagi siapa diri gue, apa yang gue mau, hal-hal yang gue suka, kelemahan yang gue punya, sisi-sisi baru dalam diri gue, keberanian yang gue pikir enggak pernah gue miliki, mengalahkan ketakutan-ketakutan yang selama ini melekat di gue, banyak hal, dan gue benar-benar merasa bahagia untuk itu semua. Gue juga merasa ketagihan, seriusan, siapapun yang baca tulisan ini, harus mencoba untuk punya waktu dan bersenang-senang dengan dirinya sendiri. Karena rasanya sangat berbeda. Ini liburan yang paling beda, dari semua liburan yang pernah gue lalui, dan liburan yang paling memberi arti banyak buat gue. 

Gue punya banyak dendam sama diri gue sendiri, ada banyak penyesalan yang gue punya, ada banyak kegagalan yang enggak termaafkan, ada terlalu banyak cerita yang enggak mau gue bagi ke orang lain. Dan gue belajar untuk melepaskan dan melupakan semua itu, gue belajar untuk percaya sama diri gue sendiri lagi, dan mungkin dalam prosesnya gue akan bisa belajar untuk percaya sama orang lain juga, tapi yang paling utama adalah gue belajar menghargai diri gue sendiri. Selama ini gue selalu merendahkan diri gue untuk apa yang gue sebut kepentingan bersama, gue selalu enggak peduli sama perasaan gue, gue mengecilkan keinginan-keinginan yang gue punya, dan sibuk menuhin harapan orang lain. Dan gue kehilangan banyak hal, dan gue enggak mau itu terus-terusan terjadi. Gue mau bermimpi lagi, gue mau punya rencana-rencana lagi, gue mau punya cerita-cerita menarik yang bisa gue bagi lagi.

Dan gue akan berhenti untuk berusaha jadi yang terbaik di mata orang lain, itu terlalu melelahkan. Sekarang, gue akan berusaha untuk jadi yang terbaik di mata gue sendiri, merasa puas dengan apapun yang gue capai, menjalani hidup seperti apa yang gue mau. Seperti apa yang perjalanan ini ajarkan ke gue, bahwa ketika gue percaya sama kemampuan diri gue, bahkan saat gue sendirian, di tempat asing, gue akan tetap bisa bertahan dan merasa bahagia.

This healing journey, make me realize, I can be happy with just myself, I’m important and I everything that I have,

and the happiness is everything I need right now,


let’s be happy!

No comments:

Post a Comment