"At some point
I've gotten scared of people's eyes
I'm sick of crying so I tried smiling
But no one recognizes me"

Loser - Big Bang

Wednesday, March 2, 2016

Be a Smart Fangirl

Beberapa malam lalu tiba-tiba aja timeline gue rame sama tweetwar antara kpopers dan seorang stand-up comedy, dan berhubung gue orangnya kepoan, jadilah gue klik hastagnya (yang menurut gue berlebihan) dan baca satu per satu tweet-nya. Ada yang menyikapi dewasa, ada yang sedikit ngelawak, ada yang super nge-troll dan tentunya ada (banyak) yang melewati batas. Berhubung gue sendiri bukan orang tanpa dosa, jadi gue enggak mau mengomentari itu, yang jelas baca  tweet(s) tersebut mengingatkan gue tentang my own fangirling moments, haha.

Jauh sebelum tergila-gila sama para oppa yang beranjak ahjussi (re : Super Junior) itu, gue lebih dulu terjerumus sama yang namanya KDrama. Gue adalah salah satu orang yang pernah berkhayal bakal di piggy-back sama pacar gara-gara I’m Sorry I love You, yang nyanyi three-bears sambil goyang-goyang pantat gara-gara Full House, yang pengen handphone samsung yang case-nya warna-warni gara-gara BBF, yang rela desek-desekan di kopaja pulang les dan turun angkot lari-lari ke rumah demi nonton episode terakhirnya Jang Geum.


Sampai kemudian datanglah awal tahun 2011 yang merubah segalanya, clbk gue dengan Choi Siwon yang tadinya imut-imut di 18 vs 29 dan jadi se-manly itu dengan abs-absnya di SuShow 3 yang aduhai~ dan variety show(s) mereka semakin menjeremuskan gue kedalam komunitas bernama kpopers, membuat gue tiba-tiba saja terlabeli dengan sebutan fangirl, dan sampai hari ini, semuanya belum ada yang berubah.

Dan gue melewati berbagai fase dan masa selama gue menjadi fangirl lima tahunan ini. Enggak bisa dipungkiri, awal-awal gue jadi fangirl, gue jadi tipe yang alay, sok tahu, that kind of oppa is everything and always true, menyebalkan, dan semacamnya. Gue juga menjalani kehidupan fangirl yang sedikit extreme, mulai dari sekedar nulis fanfiction dan ngesave-in foto HD sampai mutusin nonton konser dengan tiket seharga 1,5 juta 2 jam sebelumnya, nonton konser mereka ke Singapore, lalu beberapa bulan kemudian nonton konser yang sama artist yang sama dengan daftar lagu yang sama di negara sendiri, antri tiket lebih dari 24 jam sampai check in kamar di hotel, ngerjain uts Filsafat super kilat demi breakfast di Hotel tempat mereka nginep dan jadi stalker (ini tetep super LOL diantara semua sih. Fix), nonton tiga konser dalam satu tahun sampai saldo tabungan super menyedihkan, bolos kelas statistik lanjutan demi ngejar Siwon ke PP (Hai!), nonton SuShow 6 saat skripsi belum selesai padahal besoknya harus daftar sidang dan tentunya liburan ke negara mereka.



Tapi momen-momen itu dan setiap masa yang terlewati juga perlahan merubah gue. Gue yang sekarang bukan lagi gue yang lima tahun lalu dan enggak suka sama Lee Hyukjae (Kangen woi!). Gue yang sekarang tutup kuping aja kalau ada yang enggak suka Super Junior. Gue yang sekarang enggak lagi terlalu ngoyo saat mereka ada disini. Gue yang sekarang sangking capeknya nonton konser terakhir mereka kemarin sampai duduk aja lesehan padahal merekanya masih lompat-lompat di panggung. Gue yang sekarang enggak lagi peduli mereka menang awards apa enggak yang penting mereka tetep sama-sama aja, itu cukup buat gue.

Percayalah, jadi fangirl itu enggak mudah, apalagi dengan stigma tentang fangirl dan artist Korea Selatan yang berkembang di masyarakat. Ada banyak orang disekitar gue yang secara langsung enggak suka sama budaya Korea ini dan bilang itu langsung didepan muka gue, dulu gue berapi-api berargumen sama mereka A-Z, tapi sekarang gue sih masa bodoh, kalau mereka enggak suka yaudah, kalau suka ya ayo kita seneng bareng-bareng, yang gue harap sih cuma orang yang enggak suka, enggak perlu juga ngejudge, tak kenal maka tak sayang, kan ? dan orang yang suka, saat membela punya batasan yang jelas juga sejauh apa.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia tahun 2009 (KBBI), fanatisme adalah keyakinan atau kepercayaan yang terlalu kuat terhadap suatu ajaran (politik, agama, dst). Seseorang yang bersikap fanatik seringkali dijuluki sebagai penggemar selebritis, serial televisi, band, dan komoditas budaya pop lainnya, dan dalam industri Kpop penggemar biasanya disebut dengan istilah fans.

Fans Kpop menjujung tinggi loyalitas. Mereka akan membeli album asli dari Korea, menonton konser berulang kali, memberikan hadiah berupa barang-barang mewah (seperti peralatan musik atau elektronik) atau melakukan kegiatan sosial (menyumbangkan donasi ke lembaga sosial) jika Idola mereka berulang tahun, dan juga membuat event-event dukungan selama konser berlangsung. Tidak hanya yang berhubungan dengan materi, fans juga akan siap pasang badan jika ada masalah yang menimpa Idola mereka. Hal- hal ini tentunya tidak dapat dilakukan sendiri, oleh sebab itu munculah fanbase. Menurut kamus Oxford definisi dari fanbase adalah The fans of a particular well-known person, group, team, etc. considered as a distinct social grouping. Atau dapat diartikan sebagai, penggemar dari orang, grup, team yang dikenal khusus, dianggap sebagai pengelompokan sosial yang berbeda.

Kutipan diatas itu, gue ambil dari skripsi gue, dan ya, enggak bisa dipungkiri kpopers memang cenderung fanatis dan kadang berlebihan. Tapi kaya yang sudah gue ceritakan sebelumnya, gue pun pernah melewati masa-masa itu, dan gue tahu itu bukan sesuatu yang sepenuhnya positif dan perlu dibanggakan. Saat ini kadang gue sendiri suka merasa sedikit enggak nyaman ketika ngelihat anak-anak kecil (usia SD-SMP) yang jadi kpopers, karena secara umur mereka masih terlalu muda, emosi dan mental mereka juga belum matang untuk diajak berargumentasi secara dewasa. Tapi gue percaya, semua akan ada masanya, dan gue berharap kpopers-kpopers cilik tersebut akan beranjak dewasa dan berubah jadi fangirl yang bijak.

Begitu juga dengan orang-orang sekitar yang melihat sebelah mata keberadaan Korean-Wave dan Fangirl pada khususnya. Kadang yang paling menyebalkan buat gue pribadi adalah, ketika seseorang menanyakan tentang nasionalisme gue hanya karena gue seorang fangirl, padahal dia sendiri misalnya, menyukai Hollywood, Bollywood, atau budaya bangsa yang lain. Nasionalisme bukan sesuatu yang punya alat ukur yang tepat menurut gue, hanya karena seseorang menyanyikan lagu bahasa asing belum tentu dia tidak nasionalis, dan hanya karena seseorang mengikuti upacara bendera setiap hari senin belum tentu juga dia seorang yang nasionalis. Jadi menurut gue kuncinya cuma satu, respect, bukan hal yang sulit, dan akan sangat menguntungkan saat dilakukan oleh berbagai pihak.

Baca tulisan gue diatas, mungkin akan menimbulkan pendapat bahwa hobi fangirling gue berdampak negatif. For your info, yang terjadi adalah sebaliknya. Secapek apapun gue saat masa-masa kuliah kemarin, gue cukup nonton varshow (cough, EHB, cough) mereka dan gue akan merasa sangat bahagia. Nilai Filsafat gue A bulet, dan nilai Statlan gue B+. Skripsi gue tentang Super Junior dan hasilnya memuaskan. Kemarin gue lulus tepat waktu dan cum laude. Dan enggak satupun konser yang gue tonton dari hasil minta ke orang tua, semuanya dari usaha gue menabung, yang dikasih sama orang tua gue cuma ijin, itu udah cukup. Gue tahu, ini terdengar sangat bragging, tapi gue cuma mau menunjukkan, kalau ada banyak hal positif juga selama gue fangirling.

Suatu hari nanti, saat gue punya anak, dan anak gue remaja, mungkin dia akan suka sama band ataupun boyband atau apapun, dan gue akan menceritakan hal-hal gila memalukan itu sama mereka. Beberapa bagian enggak membanggakan (bolos kelas, misalnya) memang, tapi itu bagian dari masa remaja gue yang enggak bisa gue hapus, pada satu waktu, itu pernah membuat gue bahagia walaupun cuma di dadahin Siwon dari kejauhan (tetep). 

Gue rasa fangirling memotivasi gue untuk jadi rajin nabung, untuk punya mimpi, untuk mengenal kebudayaan lain, belajar bahasa baru, mendapat teman-teman dari berbagai kalangan. Di sisi yang lain, gue juga tahu, ada waktu, tenaga dan uang yang terbuang saat gue melakukan ini, dan begitu juga dengan yang lain, jadi enggak ada salahnya untuk sekedar saling menghargai, lagipula hobi ini enggak merugikan ataupun melukai siapa-siapa. Dan kadang, karena terlalu sayang, terlalu protective, sebagian jadi terlalu frontal saat membela, dan itu sih yang gue sesali, karena stigma yang ada sudah tidak terlalu bagus, janganlah semakin dirusak. Gue ngelakuin ini untuk seneng-seneng, dan gue yakin yang lain juga gitu, jadi kalau malah bikin stres dan sedih, jangan dilanjutin.

Jadilah fangirl yang smart, yang tahu batasan, yang tidak mudah termakan gosip, yang tidak mudah percaya sama kabar miring, yang melakukan fangirling semata-mata karena hobi yang menyenangkan, karena fangirling menghibur, jangan berlebihan, dan terutama jangan posesif. Jadiin kegiatan fangirling ini sesuatu yang positif, yang memotivasi, yang bikin kita rajin nabung (karena tiket konser selalu naik dan negara oppa terlalu jauh). Trust me, saat kita melakukan kegiatan fangirling karena usaha kita sendiri, rasanya membahagiakan.

Benar kata orang, para idola itu enggak tahu siapa kita, enggak kenal muka kita, enggak bener-bener paham sama keberadaan kita. Tapi gue percaya, mereka peduli sama fans secara keseluruhan, bagaimanapun idola dan fans itu punya hubungan simbiosis mutualism, dan alangkah menyenangkannya kalau hubungan itu bisa kita jaga-jaga sama sampai the last goodbye.

Fangirling’s the part of me, dan selama ini masih membuat gue bahagia, dan gue juga enggak menyakiti siapapun (kecuali tabungan gue), gue rasa gue akan terus melakukannya sampai nanti entah kapan waktu yang akan memberi gue garis akhirnya.


Let’s respect each other, hidup fangirl! Peace! xoxo

No comments:

Post a Comment