Well it's been months since I writting or blogging, jadi gue sama sekali enggak tahu harus memulai darimana untuk mengutarakan apa yang ada di pikiran gue beberapa minggu terakhir ini,
but let me try, let me tell you a bit about my life nowadays,
I got job,
I pay the tax now,
I've a lot and bigger responsibilities,
I wake up 4.30 AM everymorning (except weekend ofc),
I gain a bunch of experiences,
Dan, apakah semua itu membuat gue menjadi orang dewasa sepenuhnya ? Apakah nanti saat gue mengganti KTP gue dengan E-KTP dan kolom perkerjaan yang selama ini terisi pelajar berganti dengan karyawan, akan membuat gue sah disebut dewasa ?
Apakah gue siap ?
Apakah gue bisa ?
Jawabannya :
Enggak paham. Enggak tahu. Enggak ngerti
Gue, enggak pernah mikir akan jadi orang dewasa yang seperti ini. Versi gue yang tujuh belas tahun, lebih dewasa daripada gue hari ini.
She did know what she wants. She had dreams. She worked hard to made it. She got the confidence inside her. She fullfilled herself with knowledge she needs. She was so brave to made every decisions by herself for her dear life.
She was so brilliant, 'till She forgot to realize life was like a box of chocolates (credit to Forrest Gump, I know), a full of surprises, She failed, and she never prepared for that, She was broken, to pieces, then dissapeared, to an air.
Funny fact : Versi gue tujuh belas tahun, sangat benci dengan tipe orang dewasa, yang sedang gue jalani saat ini.
Gue selalu berpikir, jadi orang dewasa itu harus bertanggung jawab penuh sama hidupnya, punya mimpi, punya tujuan yang jelas, punya goals yang ingin dicapai, tahu keputusan-keputusan apa yang harus dibuat, harus realitis.
Tapi siapa sangka dua tahun lalu gue memasuki fase "
Dan itu sesuatu yang sudah terlewati, yang sampai hari ini masih gue ingat jelas, tapi tidak akan gue ulangi. Ingat aja ilmu gravitasi, semua yang di Bumi akan jatuh pada satu waktu, bisa terluka, bisa berdarah, bisa pecah, atau cuma tergores, pilihannya cuma dua, mau jadi benda mati yang harus diberdirikan orang lain, atau benda hidup yang berusaha untuk berdiri lagi, sendiri. (and it's okay if you ask help, that's what friends are for)
Saat gue melakukan perjalanan gue ke Seoul yang bisa dibilang nekat itu, saat gue literally sendirian di negara orang, saat itu gue sadar bahwa diluar comfortzone gue ada dunia yang sangat-sangat luas, bahwa saat gue belajar percaya sama apa yang gue punya, se-sedikit apapun itu, gue tetap bisa bahagia, bahwa kebahagiaan gue adalah hal paling utama, bukan reckless tapi braveness, bukan un-responsible tapi enjoying life, bukan selfish tapi appreciate yourself.
Perjalanan itu membawa gue untuk mencoba banyak hal dalam hidup, salah satunya melangkah dari zona nyaman gue, realisasinya adalah, menerima ((or diterima???)) perkerjaan yang sedang gue lakukan.
Sampai saat ini, gue masih dalam masa adaptasi. Semua yang harus gue lakukan dan kerjakan sangat-sangat asing dan baru buat gue. Perubahan pola hidup dari pengangguran ke karyawan kantoran cukup membuat gue kewalahan. Bohong kalau gue bilang, gue enggak bertanya-tanya ke diri gue sendiri, "apakah ini keputusan yang tepat ?", "apakah kerja di luar zona nyaman untuk perkerjaan pertama bukan sesuatu yang ekstrem ?"
Tapi saat interview, dan ditanya apa passion gue, gue masih ingat bahwa gue sempat tersenyum canggung beberapa detik dan terdiam, sampai akhirnya gue menjawab "Saya suka nulis, suka bikin cerita dan ngeblog, tapi itu dulu, sekarang saya belum tahu passion saya apa, dan mungkin kesempatan untuk berkerja disini, bisa membantu saya untuk menemukan passion saya."
Ya. Gue enggak punya mimpi apa-apa, tapi kalau terpaksa harus menjawab mimpi gue apa, itu jawabannya, gue bermimpi untuk punya mimpi lagi, bermimpi untuk punya passion lagi, dan saat semua itu terwujud, I swear, gue tidak akan mengulangi kesalahan yang sama dua kali.
Jadi ini gue saat ini,
berkerja, harus bangun subuh setiap hari, nunggu transjakarta setiap pagi, do my works, kadang lembur, pulang naik kereta dan jadi sarden setiap malam.
See, jadi orang dewasa monoton. Ditambah gue masih merasa bodoh karena gue bener-bener enggak tahu dan keteteran sama perkerjaan-perkerjaan gue.
Tapi Galuh bilang gini, "Lo berhak merasa bodoh saat ini Nin, ini hak lo, lo masih adaptasi."Jadi kalau ada yang ngalamin apa yang gue rasain, inget quote dari sahabat gue itu, kita punya hak untuk merasa bodoh. People will understand, hopefully.
Kalau balik dari pertanyaan di awal dari tulisan enggak berbobot gue ini, apakah gue siap dan bisa jadi orang dewasa, jawabannya tetap sama, gue enggak paham, enggak tahu, enggak ngerti.
Tapi pengalaman mengajarkan gue bahwa merasa bahagia itu penting, yang paling penting dari semuanya. Enggak peduli umur lo berapa, apakah lo punya KTP atau SIM, apakah lo pelajar, pengangguran atau perkerja, jangan pernah kehilangan keseruan dari dalam hidup lo.
Like a kid, I wanna still believe miracle does exist, dancin when I hear Disney's songs, Ice Cream is edible for breakfast, lunch and dinner, McD is my kind of sallad, and chocolate is the best thing in the universe.
Bahwa bukannya mau nabung untuk beli rumah atau mobil, saat ini wishlists gue adalah bisa nonton konser Super Junior di Korea dan ke The Making of Harry Potter di Watford (UK).
dan kalau kemudian itu semua jauh diluar dari kualifikasi menjadi dewasa, I don't care. Enggak ada yang boleh define siapa kita dari apa yang kita lakuin, kita enggak perlu buktiin apa-apa ke siapa-siapa, satu-satunya yang perlu pembuktian dari kita adalah diri kita sendiri.
I guess, that's what I do, lately. It's hard, new and kinda blur, but I need to show to myself, I could survive and do a good job.
*
Always remember, even adults are still growing up
xoxo~
No comments:
Post a Comment